Categories

google translate

Selasa, 14 Februari 2012

Lava Basaltic From Anak Krakatau Mount

lava basaltik_1555
Lava Basaltic di Gunung Anak Krakatau
Lava Basalt adalah batuan beku vulkanik, yang berasal dari hasil pembekuan magma berkomposisi basa di permukaan atau dekat permukaan bumi. Biasanya membentuk lempeng samudera di dunia. Mempunyai ukuran butir yang sangat baik sehingga kehadiran mineral mineral tidak terlihat. Basalt umumnya batuan vulkanik ekstrusif. Biasanya berwarna abu-abu menjadi hitam dan halus karena pendinginan yang cepat dari lava pada suhu permukaan.. Menurut definisi resmi , basal didefinisikan sebagai batuan beku aphanitic yang mengandung, volume, kurang dari 20% kuarsa dan kurang dari 10% feldspathoid dan di mana setidaknya 65% dari felspar dalam bentuk plagioklas.


Meskipun Anak Krakatau menunjukkan tanda-tanda semakin tinggi dan aktif, menurut Surono, publik tak perlu terlalu cemas. Krakatau masih dalam tahap membangun. ”Sifat magma Anak Krakatau belum seperti ibunya yang dacite (kental). Sekarang magma masih basaltik (encer) dan miskin gas. Meletus mungkin iya, dan bisa lebih besar dibandingkan tahun 2007, tetapi belum bisa membongkar tubuh gunung seperti pendahulunya saat meletus 1883,” kata dia.


Geolog Belanda, Reinout Willem van Bemmelen (1948), menyebutkan, perubahan sifat magma dari basaltik ke dacite di Anak Krakatau kemungkinan memakan waktu beberapa abad. Namun, proses ke arah itu ternyata tengah berjalan. Geolog Belanda, George Adriaan De Neve (1981), mengamati adanya perubahan kimia magma di Krakatau dari basa yang ditandai dengan kadar silika (SiO2) rendah ke asam dengan kadar silika (SiO2) tinggi.
satu lagi_1556
Gunung Anak Krakatau
Dia menganalisis kimia batuan lava hasil letusan Anak Krakatau sejak tahun 1930 hingga tahun 1981 dan menemukan persentase silika cenderung meningkat. Misalnya letusan pada November 1992 mengandung silika 53,95 persen dan lava pada Juni 1993 kandungannya menjadi 53,97 persen, dan pada Juli 1996 menjadi 54,77 persen.


Saat ini, Anak Krakatau secara teori masih dalam tahap membangun sehingga belum mampu menghasilkan energi letusan yang besar sekali. "Tetapi, tetap saja ada kekecualian," kata Sutikno, menjelaskan kemungkinan lain. "Jika tiba-tiba magma Anak Krakatau berinteraksi dengan air bawah laut atau tiba-tiba ada injeksi magma dari sumber lain yang lebih asam, Anak Krakatau bisa sangat berbahaya."


Pengecualian itu memang bukan hal yang muskil mengingat Selat Sunda yang menjadi rumah bagi Anak Krakatau ini berada di zona penunjaman lempeng benua yang hiperaktif. Selama lempeng Indo-Australia terus menumbuk lempeng Euro-Asia, dapur magma yang menjadi rahim bagi kelahiran "roh" Anak Krakatau terus mendapat suplai energi baru.


Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/12/02/06294645/Geliat.Anak.Krakatau.yang.Hiperaktif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kasih komentarnya ya reader :D